Showing posts with label Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan. Show all posts

Friday, 3 July 2015

Kisah Seorang Ibu Penyapu Jalanan Yang Berpuasa

Kisah Seorang Ibu Penyapu Jalanan Yang Berpuasa
Hidup adalah perjuangan. Kata itu tampaknya cocok disematkan untuk Rusdijah (45). Betapa tidak, ibu beranak lima ini berjuang keras tiap hari demi bertahan hidup di tengah kerasnya kota Jakarta.
Suaminya pengidap darah tinggi yang telah wafat lima tahun silam akibat terpeleset dari kamar mandi, membuatnya kian ikhlas menjalani hidup sebagai single parents.
Rusdijah ialah satu dari sekian banyak perempuan yang berprofesi sebagai petugas kebersihan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. “Saya sudah lima tahun kerja ini,” ujar Rusdijah saat ditemui di Lapangan Banteng. Rusdijah mengaku, di bulan Ramadhan ini cukup sulit menjalani dua aktivitas sekaligus, berpuasa dan membersihkan lapangan. Namun hebatnya, ibu ini tetap menomorsatukan ibadah puasanya. “Capek, haus. Tapi bagaimana, puasa kan juga kewajiban,” tuturnya.
Selain pengorbanannya yang total pada pekerjaannya itu, rupanya kisah hidup Rusdijah pun cukup memprihatinkan. “Waktu itu rumah saya kebakaran di Kwitang,” ucap Ibu yang akrab disapa Ijah ini mengawali ceritanya. Usai insiden kebakaran yang menghanguskan rumah lengkap dengan seluruh perabotannya, Ijah pindah ke Citayam. “Nggak ada satu pun barang yang tersisa,” ujarnya. Kebakaran itu, menurut dia, terjadi karena hubungan pendek arus listrik. Kebakaran itu cukup memilukan hatinya hingga kini. Ternyata cobaan tak berhenti sampai disitu. Selang beberapa bulan ia dan keluarga pindah ke Citayam, suaminya pengidap darah tinggi terpeleset di kamar mandi. Tak lama, sang pencari nafkah itu pun dipanggil Sang Khaliq tuk selama-lamanya. “Masih sedih kalau ingat itu,” katanya.
Dua cobaan sudah yang telah menimpa ibu pemilik empat anak lelaki dan satu anak perempuan ini. Tetapi, Ijah tidak menyerah sedikit pun. Ia bertekad untuk melanjutkan hidupnya kembali.
Sedahsyat apa pun badai menghantam. “Meski susah, hidupkan harus dilanjutkan,” ujarnya. Ia pun memutuskan untuk menjadi petugas kebersihan. Anak-anaknya yang lain pun giat mencari kerja. Sayangnya, dua anaknya jarang pulang. Anak perempuan satu-satunya, Riska (12) pun tak tega melihat ibunya bekerja sendiri. “Riska minta izin mau jadi tukang koran,” ungkapnya. Di lubuk hati Ijah, ia tak tega membiarkan anaknya yang waktu itu masih kelas IV SD untuk berjualan. “Ternyata Riska nggak nyerah. Dia bener-bener jadi tukang koran sama abangnya keempat,” paparnya. Di tengah morat-marit hidup Ijah dan keluarganya, ia pun harus menelan pil pahit lagi. Anaknya yang ketiga wafat karena sakit. “Lagi-lagi saya kehilangan,” tuturnya memilukan. Ijah pun kembali bangkit. Anak perempuannya itu rupanya yang memberinya kekuatan untuk bertahan. “Riska yang buat saya kuat hadapi hidup. Dia nggak pernah nangis dikatain teman-temannya tukang koran,” paparnya. Ijah pun mengakui, ternyata putri bungsunya tersebut cerdas meski memiliki kenangan memilukan. “Dulu dia nggak mau masuk sekolah. Saya nggak tahu kenapa. Astaghfirullah, saya kesal, saya tampar dia,” sesalnya. Ternyata, selang beberapa lama Riska mengakui ia tidak mau masuk sekolah lantaran takut dan trauma. “Ternyata, itu anak digertak sama kepala sekolahnya. Dikatain goblok dan bego. Ya Allah, nggak tau apa itu anak yatim,” ujar Ijah. Akhirnya, Ijah pun menyelidiki kenapa anaknya digertak dan dikatai dengan ucapan tak senonoh itu. “Waktu itu, anak saya ditanyain pas lagi jualan kenapa nggak sekolah. Anak saya keceplosan ‘Biar sekolah gratis tapi kan bukunya bayar’ gitu kata Riska. Eh, nggak lama itu sekolah didatangi orang DKI. Riska dianggap sumber tercemarnya nama sekolah.
Dari situ saya dipaksa buat ngeluarin Riska dari sekolah,” paparnya. Namun demikian, Riska tak sedih atau pun muram usai digertak kepala sekolah tersebut. Ia hanya mogok sekolah karena trauma. Ijah kini hidup bahagia dengan putrinya yang kerap mengerjakan PR di kereta dan sering tertidur hingga Bojong karena saking lelahnya. “Riska tiap hari bangun pukul 04.00 pagi. Dia berangkat kan naik kereta. Dagang dulu, baru sekolah di SMPN 273 Tanah Abang. Pulang sekolah, dia dagang lagi. Uangnya nggak pernah dijajanin. Buat saya semua. Alhamdulilah, guru-gurunya bilang Riska pintar,” tutupnya penuh haru.
Hidup adalah perjuangan. Kata itu tampaknya cocok disematkan untuk Rusdijah (45). Betapa tidak, ibu beranak lima ini berjuang keras tiap hari demi bertahan hidup di tengah kerasnya kota Jakarta.
Suaminya pengidap darah tinggi yang telah wafat lima tahun silam akibat terpeleset dari kamar mandi, membuatnya kian ikhlas menjalani hidup sebagai single parents.
Rusdijah ialah satu dari sekian banyak perempuan yang berprofesi sebagai petugas kebersihan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. “Saya sudah lima tahun kerja ini,” ujar Rusdijah saat ditemui di Lapangan Banteng. Rusdijah mengaku, di bulan Ramadhan ini cukup sulit menjalani dua aktivitas sekaligus, berpuasa dan membersihkan lapangan. Namun hebatnya, ibu ini tetap menomorsatukan ibadah puasanya. “Capek, haus. Tapi bagaimana, puasa kan juga kewajiban,” tuturnya.
Selain pengorbanannya yang total pada pekerjaannya itu, rupanya kisah hidup Rusdijah pun cukup memprihatinkan. “Waktu itu rumah saya kebakaran di Kwitang,” ucap Ibu yang akrab disapa Ijah ini mengawali ceritanya. Usai insiden kebakaran yang menghanguskan rumah lengkap dengan seluruh perabotannya, Ijah pindah ke Citayam. “Nggak ada satu pun barang yang tersisa,” ujarnya. Kebakaran itu, menurut dia, terjadi karena hubungan pendek arus listrik. Kebakaran itu cukup memilukan hatinya hingga kini. Ternyata cobaan tak berhenti sampai disitu. Selang beberapa bulan ia dan keluarga pindah ke Citayam, suaminya pengidap darah tinggi terpeleset di kamar mandi. Tak lama, sang pencari nafkah itu pun dipanggil Sang Khaliq tuk selama-lamanya. “Masih sedih kalau ingat itu,” katanya.
Dua cobaan sudah yang telah menimpa ibu pemilik empat anak lelaki dan satu anak perempuan ini. Tetapi, Ijah tidak menyerah sedikit pun. Ia bertekad untuk melanjutkan hidupnya kembali.
Sedahsyat apa pun badai menghantam. “Meski susah, hidupkan harus dilanjutkan,” ujarnya. Ia pun memutuskan untuk menjadi petugas kebersihan. Anak-anaknya yang lain pun giat mencari kerja. Sayangnya, dua anaknya jarang pulang. Anak perempuan satu-satunya, Riska (12) pun tak tega melihat ibunya bekerja sendiri. “Riska minta izin mau jadi tukang koran,” ungkapnya. Di lubuk hati Ijah, ia tak tega membiarkan anaknya yang waktu itu masih kelas IV SD untuk berjualan. “Ternyata Riska nggak nyerah. Dia bener-bener jadi tukang koran sama abangnya keempat,” paparnya. Di tengah morat-marit hidup Ijah dan keluarganya, ia pun harus menelan pil pahit lagi. Anaknya yang ketiga wafat karena sakit. “Lagi-lagi saya kehilangan,” tuturnya memilukan. Ijah pun kembali bangkit. Anak perempuannya itu rupanya yang memberinya kekuatan untuk bertahan. “Riska yang buat saya kuat hadapi hidup. Dia nggak pernah nangis dikatain teman-temannya tukang koran,” paparnya. Ijah pun mengakui, ternyata putri bungsunya tersebut cerdas meski memiliki kenangan memilukan. “Dulu dia nggak mau masuk sekolah. Saya nggak tahu kenapa. Astaghfirullah, saya kesal, saya tampar dia,” sesalnya. Ternyata, selang beberapa lama Riska mengakui ia tidak mau masuk sekolah lantaran takut dan trauma. “Ternyata, itu anak digertak sama kepala sekolahnya. Dikatain goblok dan bego. Ya Allah, nggak tau apa itu anak yatim,” ujar Ijah. Akhirnya, Ijah pun menyelidiki kenapa anaknya digertak dan dikatai dengan ucapan tak senonoh itu. “Waktu itu, anak saya ditanyain pas lagi jualan kenapa nggak sekolah. Anak saya keceplosan ‘Biar sekolah gratis tapi kan bukunya bayar’ gitu kata Riska. Eh, nggak lama itu sekolah didatangi orang DKI. Riska dianggap sumber tercemarnya nama sekolah.
Dari situ saya dipaksa buat ngeluarin Riska dari sekolah,” paparnya. Namun demikian, Riska tak sedih atau pun muram usai digertak kepala sekolah tersebut. Ia hanya mogok sekolah karena trauma. Ijah kini hidup bahagia dengan putrinya yang kerap mengerjakan PR di kereta dan sering tertidur hingga Bojong karena saking lelahnya. “Riska tiap hari bangun pukul 04.00 pagi. Dia berangkat kan naik kereta. Dagang dulu, baru sekolah di SMPN 273 Tanah Abang. Pulang sekolah, dia dagang lagi. Uangnya nggak pernah dijajanin. Buat saya semua. Alhamdulilah, guru-gurunya bilang Riska pintar,” tutupnya penuh haru.

Thursday, 2 July 2015

Ramadhan Tetap Romantis

Bulan Ramadhan.........Lantas bagaimana dengan agenda mesra para suami istri ? Apakah romantis harus kita tangguhkan terlebih dahulu hingga lebaran tiba ? Sanggupkah kita ? Jika tidak, a
dakah alternatif lainnya ?.
Sebelum berbicara lebih jauh tentang kemesraan selama bulan Ramadhan, ada sebuah hadits yang perlu kita renungkan terlebih dahulu. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda ketika Ramadhan datang menjelang : " Sungguh telah datang padamu sebuah bulan yang penuh berkah dimana diwajibkan atasmu puasa di dalamnya, (bulan) dibukanya pintu-pintu surga, dan ditutupnya pintu-pintu neraka jahannam, dan dibelenggunya syaitan-syaitan, Di dalamnya ada sebuah malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Barang siapa diharamkan dari kebaikannya, maka telah diharamkan (seluruhnya) "(HR Ahmad, Nasa'i dan Baihaqi)
Ramadhan sering datang dengan tiba-tiba, dan berlalu begitu cepat tanpa terasa. Ia adalah momentum termahal yang pernah kita punya untuk mendulang pahala. Ini mirip bulan promosi dan besar-besaran yang ditawarkan di pusat-pusat perbelanjaan. Kebaikan nilai pahalanya menjadi berlipat-lipat, semua orang berburu memborongnya. Saya sering mengibaratkan Romadhon itu : Bagaikan kita mendapat 'hadiah' di sebuah pusat perbelanjaan. Kita diberi kesempatan untuk mengambil semua barang belanja di dalamnya, namun hanya dalam waktu sepuluh menit ! Allah SWT menggambarkannya dalam Al-Qur'an : " (yaitui) dalam beberapa hari yang tertentu" ( QS Al-Baqarah 184)
Semua kita, jika diberi kesempatan 'gratisan' semacam itu, pasti segera meloncat lalu berlari menuju rak-rak belanjaan untuk segera mengambil barang-barang, dari yang termahal hingga termurah. Nyaris tanpa henti hingga waktunya selesai. Lelah berkeringat bukan masalah. Apa yang dalam pikiran kita adalah ini kesempatan berharga.. Sekali lengah atau berhenti bisa berarti kerugian yang tak terbayangkan.
Apa makna dari gambaran tersebut ? Arti yang harus kita pahami bahwa Ramadhan memang benar-benar berbeda. Perlu interaksi, konsentrasi dan energi yang berbeda pula dalam menyikapinya. Jangan sekali-sekali menyamakan Ramadhan dengan sebelas bulan yang lainnya. Berbeda dan sungguh berbeda.
Ini berarti, dalam bulan Ramadhan juga diperlukan sebuah kemesraan yang berbeda. Apa sajakah ?
Mesra dalam Mendulang Pahala
Sebagaimana program-program sebelumnya, kita selalu berusaha menyisipkan 'misi romantis' dalam setiap hal yang kita lakukan. Begitu juga saat Ramadhan, dimana banyak rangkaian program ibadah yang cukup ketat disyariatkan. Disitulah kita dituntut untuk lebih kreatif. Mencari celah-celah yang memungkinkan untuk investasi romantis. Tanpa mengurangi kekhusyukan dalam beribadah. Tanpa mengotori ketulusan niat kita dalam beribadah. Namun justru dalam kerangka saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Allah SWT berfirman : " Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran " (QS Al Maidah 2)
Mari kita lihat sejenak peluang-peluang romantis yang ada dalam bulan agung ini. Untuk mendulang pahala sekaligus menguatkan ikatan mesra antara suami istri.
1. Makan Sahur, ada Keberkahan ada Kemesraan
Keheningan sebelum fajar pasti menggoda setiap insan untuk lebih mesra. Bahkan munajat di sepertigamalam yang terakhir selalu saja menghadirkan ketenangan yang luar biasa. Di saat-saat yang romantis itulah saat untuk bersahur tiba. Perjuangan membangunkan pasangan sudah menjanjikan banyak celah untuk mesra. Belum lagi jika ditambah dengan menyiapkan hidangan sahur bersama-sama. Menyantapnya berdua atau bersama keluarga pun akan menghadirkan keakraban yang berbeda dari biasanya. Waktu sahur hati kita terasa begitu lapang.Beban pikiran belum terlalu banyak berdesakan di kepala kita. Inilah saat yang tepat untuk mendulang mesra. Lebih jauh lagi, ada keberkahan yang sudah seharusnya kita mendapatkannya dengan sahur bersama. Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda : Bersahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu ada keberkahan ( HR Bukhori dan Muslim)
2. Kegembiraan Saat Berbuka
Rasulullah SAW bersabda : " Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka ( buka puasa dan juga saat Idul Fitri) dan kegembiraan saat bertemu Tuhan mereka " ( Hadits Bukhori & Muslim )
Setiap hari sepanjang bulan Ramadhan, ada kegembiraan yang layak untuk dirayakan. Hidangan buka puasa –apapun bentuknya- selalu ditunggu-ditunggu. Saat maghrib benar-benar menjelang, tidak ada alasan untuk segera menikmatinya. Mengejar keberkahan yang dijanjikan. Dari Sahl bin Sa'd, Rasulullah SAW bersabda : " Manusia senantiasa berada dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka " ( HR Bukhori dan Muslim)
Diantara kegembiraan dan keberkahan itulah, tercipta sebuah nuansa kemesraan yang baru. Tidak sekedar makan dan minum bersama untuk mengembalikan kekuatan raga. Cobalah juga beberapa hal yang menguatkan jiwa mesra Anda berdua. Berbukalah dengan satu suapan kurma dari tangan pasangan Anda. Atau berbukalah dengan ciuman tanpa kata-kata. Bahkan sesederhana air putih pun bisa menjadi lambang kemesraan, jika diminum segelas berdua. Jangan lupa untuk mengawali semua mesra itu dengan doa. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash, Rasulullah SAW bersabda : " Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka ada doa yang tidak akan tertolak " (HR Ibnu Majah)
3. Panen Kemesraan dalam Doa
Rasulullah SAW : Ada tiga orang yang tidak tertolak doa mereka : " Orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang terdzalimi " ( HR Tirmidzi)
Dalam bulan Ramadhan ada istilah 'Manajemen Doa'. Artinya bagaimana mengoptimalkan kesempatan yang ada untuk berdoa. Doa bagi semua orang. Dari yang terdekat, hingga yang terjauh dibelahan bumi yang lain. Dari yang paling dicintai, hingga yang paling dibenci. Semuanya layak untuk di doakan. Suami istri juga berhak punya doa-doa khusus yang lebih mesra jika diungkapkan bersama. Tentang harapan datangnya buah hati, harapan tumbuh shaleh dan sehatnya sang buah hati, harapan tercurahnya rizki, harapan cinta sekaligus pertemuan abadi di akhirat nanti. Berdoalah dengan semangat. Hindari keraguan dan jauhi kemalasan. Berdoalah dengan penuh harapan dan ketamakan juga kemewahan ! Sesungguhnya dalam doa ada motivasi untuk berbuat lebih baik dari sebelumnya. Lihatnya betapa percaya dirinya Istri Fir;aun dengan meminta sebuah bangunan khusus di sisi Rabb-nya : " Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga " (QS At-Tahriim : 11)
Berdoalah, karena Allah SWT begitu dekat dan mengetahui setiap yang terlintas dalam hati dan benak kita. Allah SWT berfirman : " Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadaku tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku. Agar mereka selalu berada dalam kebenaran." ( QS Al-Baqoroh 186)
4. Mesra Saat Tarawih
Salah satu keunikan saat Ramadhan adalah banyak orang yang bisa bisa sholat malam berturut-turut sebulan penuh. Sementara pada malam sebelas bulan yang lainnya, hal ini sama sekali tidak terbayangkan. Sholat malam ramadhan yang akrab disebut dengan shalat tarawih, adalah salah satu peluang penghapus dosa-dosa kita sebelumnya. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : " Barang siapa yang mendirikan (sholat) Romadhon dengan keimanan dan penuh pengharapan, akan Allah akan mengampuni dosa-dosanya terdahulu " ( HR Ahmad dan Ashabu Sunan)
Kemesraan saat tarawih jangan diartikan sepasang suami istri bersenang-senang dengan 'tarawih keliling' dari satu masjid ke masjid yang lain. Bukan pula kemesraan 'sekedar' berjalan kali bersama saat berangkat dan pulang tarawih. Meski hal itu juga cukup mahal dan berharga bagi pasangan suami istri yang sebagian besar memilih berangkat sendiri-sendiri. Mesra saat tarawih adalah ketika sesekali Anda mengajaknya untuk sholat tarawih berjamaah di rumah. Istri selalu bangga jika berjalan berduaan dengan suaminya. Begitu pula sholat, ada kemesraan yang tercipta saat suami tercinta menjadi imam sholatnya. Kebanggaan untuk menjadi makmum bagi sang kepala rumah tangganya. Kemesraan dan kebanggaan ini akan berpadu menjadi sebuah kenangan. Dan inilah karakter khas Ramadhan, selalu menciptakan kenangan-kenangan. Ini pula yang membuat Ramadhan selalu dirindukan.
5. Mesra dalam Tadarus Al-Quran.
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an. Bulan yang seharusnya menuntut kita semua untuk lebih dekat pada Al-Quran. Memenuhi kewajiban-kewajiban kita terhadap Al-Qur'an. Mulai dari membaca, menghafal, mentadabburi dan lebih-lebih mengamalkan dan mengajarkan (mendakwahkan) isi kandungan Al-Quran. Kerja-kerja semacam ini membutuhkan kesungguhan dan semangat yang berlebih. Apalagi saat terik mentari membakar dan raga dipenuhi letih. Nyaris Al-Quran menjadi jarang tersentuh. Maka disinilah peluang baru tercipta. Kesempatan emas untuk mendulang pahala sekaligus meraih mesra. Setiap pasangan tampil untuk menyemangati yang lainnya. Saling mengingatkan tentang sebuah keutamaan. Bahwa Ramadhan begitu mahal untuk terlewatkan begitu saja. Mulailah dengan tadarus. Tilawah bersama secara bergantian sebulan penuh. Target khatam sekali sebulan akan menjadi lebih ringan Insya Allah.
Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata : Ia (Jibril) mendatangi beliau (Rasulullah SAW) setiap malam di bulan Ramadhon, dan mengajarkannya pada beliau Al-Quran (tadarus ) (HR Bukhori),
6. Sepuluh Hari yang Menentukan
Dari Aisyah ra, ia berkata : adalah Nabi SAW ketika masuk sepuluh hari yang terakhir (Romadhon), menghidupkan malam, membangunkan istrinya, dan mengikat sarungnya (HR Bukhori dan Muslim)
Melepas Ramadhan biasanya diliputi kesedihan. Namun jangan sampai kesedihan ini berbuah kemalasan. Karena sedih dalam arti menyesal dan menangis tidak banyak menghasilkan pahala. Melepas Ramadhan justru dengan semangat yang berlipat ganda untuk mengejar pahala. Ada lalilatul qadar award yang senantiasa membayang dalam impian kita. Perburuan malam seribu bulan itu akan lebih semangat jika dilakukan bersama-sama. Saling berlomba dan saling mengingatkan. Baik di rumah ataupun saat itikaf di masjid. Rasulullah telah mencontohkan. Beliau membangunkan istrinya untuk bersama-sama mengejar kemuliaan. Ini memang bukan saatnya egois untuk memesan rumah di surga sendirian. Sementara lahan kosong di surga begitu luas terbentang. Wallahu a'lam.
Menjaga Mesra dengan Elegan
Begitu elegan syariat Islam memperlakukan manusia dengan sifat kemanusiaannya. Kita tidak dipaksa menjadi malaikat dengan beribadah terus menerus. Tidak pula kita dibiarkan tenggelam menjadi hewan yang sibuk makan dan bersetubuh saja. Begitu pula dalam Ramadhan. Puasa tidak lantas menutup semua celah bagi suami istri untuk saling berbagi rindu. Ada malam-malam Ramadhan yang bisa menjadi saksi mesra dan gairah antara suami istri. Ini bukan sekedar halal namun juga sebuah pengakuan. Pengakuan atas sisi kemanusiaan kita yaitu nafsu. Sebuah ayat menyatakan dengan penuh sindiran tentang hal ini.
“ Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Ramadhan bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu … “ (QS Al-Baqarah : 187)
Serangkaian kemesraan pada malam hari Ramadhan begitu indah digambarkan: suami istri menjadi pakaian bagi yang lainnya. Bahasa sederhananya adalah saling menutupi, saling melindungi, dan akhirnya saling memberi ketenangan. Puncak aktifitas mesra pada malam Ramadhan –tentu saja – adalah jimak. Halal. Pembahasan tentang jimak sudah kita bahas sebelumnya, dan rasa-rasanya tidak terlalu jauh berbeda antara Jimak di malam Ramadhan dan yang selainnya. Karenanya kita akan lebih konsen pada kemesraan-kemesraan yang mungkin tercipta di siang hari Ramadhan. Mungkinkah ?
Alhamdulillah. Menjaga mesra di siang Ramadhan dengan penuh elegan sudah sejak lama dicontohkan. Beliaulah –SAW- yang senantiasa proporsional dalam setiap aktifitasnya. Bahkan kemesraan-kemesraan yang beliau ciptakan sama sekali tidak mengganggu kekhusyukan. Lebih jauh lagi, tidak membatalkan puasanya. Mari kita belajar mesra dari qudwah dan junjungan kita.
Apa saja prestasi mesra beliau di bulan puasa.
1. Tetap Mesra di Malam Ramadhan
Dari Abu Bakr bin Abdurrahman, Ummu Salamah berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah bangun pagi dalam keadaan junub karena bersetubuh, bukan karena mimpi. Namun beliau tidak berbuka dan tidak mengqadha (mengganti) puasanya “. (HR Muslim (III/138)
Begitulah Rasulullah SAW sebagai pedoman. Malam Ramadhan bukan berarti menjauh dari istri atas nama kekhusuyukan. Mengingkari sebuah kebutuhan yang telah dihalalkan. Jadikan malam Ramadhan penuh kenangan yang beragam. Kenangan dalam ibadah juga kenangan dalam berlabuh mesra bersama pasangan. Tinggal pandai-pandai memanajen waktu yang ada. Antara habis tarawih dan sebelum sahur. Agar di siang hari syahwat kita tidak terlunta-lunta.
2. Tetap Mencium mesra saat berpuasa
Dari Aisyah ra, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mencium dan memeluk (istrinya) padahal beliau sedang berpuasa dan beliau adalah orang yang paling dapat mengendalikan nafsu seksualnya diantara kamu } HR Bukhori (V/51) dan Muslim (III/135)
Ternyata siang hari Ramadhan tidak selalu diliputi kehausan. Bagi sebagian pemburu mesra waktu apapun akan dijadikan ladang pahala mesra. Apalagi jika Rasulullah SAW telah mencontohkan. Seolah mengisyaratkan bahwa beliau sangat paham, bahwa ada sebagian umatnya yang juga tetap romantis di saat puasa.
Mencium mesra saat dahaga melanda adalah bagai guyuran air hujan yang sejuk dari langit sana. Mencium mesra saat puasa memang membutuhkan manajemen potensi syahwat yang ketat dan luar biasa. Sekali saja tergelincir penyesalan menjadi tiada guna. Karenanya, berlatihlah mencium untuk menghias mesra saja, tanpa perlu syahwat ikut bergelora. Ciuman sayang, ciuman kasih, banyak yang bisa kita lakukan selain ciuman syahwati. Seperti ketika sang suami pulang dan mendapati istrinya tidur. Lalu ia mencium kening istrinya dengan pelan agar tak terjaga. Inilah ciuman mesra yang penuh kasih. Tak ada campur tangan syahwat dan gairah.
Jika Anda ingin lebih dari sekedar mencium. Pastikan bahwa rambu-rambu batasan harus telah jelas terpancang. Pastikan pula bahwa agenda ibadah dan kekhusyukan jangan sampai hilang tanpa kesan. Jika mau bersabar, setelah maghrib episode mesra akan lebih berkesan insya Allah.
3. Tetap Mesra Saat I'tikaf
I'tikaf adalah aktifitas berdiam diri di dalam masjid, memenuhi waktu-waktunya untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Dilihat dari artinya, maka itikaf seolah tidak menyisakan celah bagi kita untuk romantis. Apalagi isyarat ini dikuatkan dengan antisipasi awal dalam Al Quran, dimana Allah SWT berfirman : " Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya " ( QS Al-Baqarah : 187 ). Walhasil, lengkap sudah alasan bagi kita untuk sejenak menutup pintu romantis lalu menata konsentrasi kita untuk lebih utuh dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun uniknya, kenyataan siroh yang indah mencatat banyak hal romantis yang dilakukan Rasullah SAW bersama istri-istri beliau, sekalipun dalam masa itikaf. Sekali lagi ini bukti keselarasan syariah Islam dengan para perindu romantis sepanjang masa. Ia tidak menutup satu pintu romantis kecuali membuka pintu-pintu yang lainnya. Inilah peluang-peluang yang harus utuh terbaca oleh setiap pemburu romantis.
Dari Aisyah ra, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW ketika sedang beri'tikaf, beliau menjulurkan kepalanya kepadaku, lalu aku menyisir (rambut)nya, dan beliau tidak masuk ke rumah kecuali untuk sebuah keperluan " ( HR Bukhori 1889 , Muwatho' (605), Muslim (445), Abu Daud (2111) Tirmidzi (733)
Dari Shafiyyah binti Huyay, Ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam melakukan itikaf, pada suatu malam aku datang mengunjunginya, lalu saya berbicara dengan beliau, kemudian saya berdiri untuk pulang. Beliau pun berdiri bersamaku untuk mengantarkan aku pulang, sedangkan tempat tinggalnya saat itu di kampung Usamah bin Zaid ( HR Bukhari dan Muslim dan Abu Daud )
Duh romantisnya ketika sedang itikaf, sang istri datang dan ikut merawat suaminya. Membersihkan wajah, menata rambut atau sekedar menyemprotkan minyak wangi misalnya. Mencari tempat yang tidak membuat pandangan para mu'takifin terlena meski sebentar. Ada pula peluang lain yang tak kalah berpahala ; menyiapkan logistik sang suami saat itikaf. Pastikan dia yang tercinta tak kelaparan saat tak bermalam dengannya. Makanan kesukaannya pasti sudah sama-sama hafal diluar kepala, apalagi saat ditambah bumbu rindu, maka semoga ini menambah semangat sang suami dan kekuatannya dalam memburu kemuliaan seribu bulan.
Dan pada akhirnya, langkah -langkah sang suami dalam mengantar kepulangan istri ke rumahnya, bisa berubah menjadi investasi pahala yang tak kalah menarik dengan aktifitasnya di dalam masjid. Jika bukan diniatkan mengikuti sunnah, apa lagi ? Seperti Ibnu Umar yang sangat idealis dalam meniru setiap gerak-gerik rasulullah SAW. Atas dasar kecintaan yang abadi.
Awas, hati-hati provokasi !
Bulan Romadhon sejatinya adalah bulan tempat kita bisa mengintip surga. Merasakan kedekatan dengan surga melalui amal-amal terbaik kita. Pintu-pintunya pun terbuka. Bahkan syaitan sang penggoda harus diikat kuat tak berkutik. Lalu tinggalah kader-kader syaitan dari jenis manusia yang masih merajalela. Kita biasa menyebutnya dengan nafsu. Nah, nafsu inilah –jika kita tidak hati-hati- akan merubah program romadhon romantis kita berubah menjadi tidak keruan. Dari janji pahala menjadi ancaman dosa. Dari mesra yang berpahala menjadi kemenangan sang durjana.
Banyak produk-produk provokasi syetan yang difollow up dengan baik oleh sang nafsu mampu menghancurkan pahala puasa kita. Yang paling semu mungkin adalah ketika mesra kita justru ternoda dengan kata-kata kotor dan keji. Bermesraan di siang Romadhan sungguh perlu intensitas pengendalian diri yang cukup. Karena ketika mesra kita justru menjadi parade kata-kata seronok dan vulgar, jangan ada sesal ketika lapar dahaga kita menjadi tiada guna. Naudzu billah.
Dari Abu Hurairah ra : Rasulullah SAW bersabda : "Tidak puasa itu dari (menahan) makan dan minum saja. Akan tetapi puasa dari hal yang sia-sia dan kata-kata keji " (HR Ibnu Khuzaimah dan Hakim : Sohih dengan syarat Muslim)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : " Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang sholat malam, tapi tidak mendapatkan dari sholatnya kecuali hanya begadang " (HR Ibnu Majah, Nisa'i, Hakim : Shohih dengan syarat Bukhori)
Produk provokasi setan yang lebih hebat lagi adalah ketika nafsu kita begitu menggelora di siang ramadhan, lalu melampiaskannya begitu saja pada sang istri trecinta. Akibatnya sungguh berbahaya. Serentetan hukuman menunggu kita, jadi itu sangat menyulitkan dunia dan akhirat kita. Ini bukan kasus baru, salah seorang sahabat ada yang jauh keasyikan melampaui mesra hingga menjimak istrinya di siang ramadhan.
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Seseorang datang kepada Nabi SAW lalu berkata : Sungguh celaka aku ya Rasulullah ! Beliau SAW berkata : Apa yang membuatmu celaka ? Laki-laki itu menjawab : " Aku menjimak istriku di siang romadhon " . Lalu Rasulullah SAW bersabda : " Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk membebaskan budak?" Ia menjawab : " Tidak". Nabi bertanya kembali, " Apakah kamu mampu untuk berpuasa dua bulan berturut-turut ? ". Ia menjawab ," Tidak". Kemudian ia duduk dan Nabi datang dengan sekantung besar kurma,Beliau SAW bersabda : Bersedekahlah dengan ini !. Laki-laki itu bertanya : " Apakah untuk yang paling miskin di antara kami ? Tidaklah ada diantara penduduk kampung yang lebih membutuhkan itu daripada kami ". Maka Nabi SAW pun tertawa hingga terlihat gerahamnya, lalu beliau bersabda : Pergilah dan berilah makan keluargamu ! " ( HR Jamaah)
Begitulah, kisah di atas menjadi semacam kontrol bagi kita, sebelum, sesudah, dan ketika akan bermesraan di siang bolong ramadhan. Mesra boleh saja, namun tolong secukupnya saja. Tidak bertaburan kata-kata penuh berahi, apalagi dilakukan di atas ranjang dan kamar tertutup yang berarorama wangi. Secukupnya saja, karena kita harus menyimpan energi romantis kita untuk nanti selepas maghrib. Saat berbuka dan seterusnya adalah momentum mesra yang sah-sah saja. Sebuah kemurahan Allah atas fitrah kita yang selalu ingin mesra.
“ Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Ramadhan bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu … “ (QS Al-Baqarah : 187)

"11 Amalan Ketika Berbuka Puasa"


 Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan hal lainnya. Hal yang utama yang sering dilupakan adalah do'a. Secara lebih lengkapnya, mari kita lihat tulisan berikut seputar sunnah-sunnah ketika berbuka puasa:
Pertama: Menyegerakan berbuka puasa.
Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya. Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkannya adzan Maghrib, maka segeralah berbuka. Dan tidak perlu sampai selesai adzan atau selesai shalat Maghrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098) Dalam hadits yang lain disebutkan,
لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ “Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih). Inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, 63)
Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)
Kedua: Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah) karena rothb amat enak dinikmati. Namun kita jarang menemukan rothb di negeri kita karena kurma yang sudah sampai ke negeri kita kebanyakan adalah kurma kering (tamr). Jika tidak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Jika tidak ada kedua kurma tersebut, maka bisa beralih ke makanan yang manis-manis sebagai pengganti. Kata ulama Syafi'iyah, ketika puasa penglihatan kita biasa berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar, 289). Jika tidak ada lagi, maka berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas.
Ketiga: Sebelum makan berbuka, ucapkanlah 'bismillah' agar tambah barokah.
Inilah yang dituntunkan dalam Islam agar makan kita menjadi barokah, artinya menuai kebaikan yang banyak.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ "Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta'ala (yaitu membaca 'bismillah'). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta'ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”." (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih)
Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ » "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?" Beliau bersabda: "Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri." Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda: "Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya." (HR. Abu Daud no. 3764, hasan). Hadits ini menunjukkan bahwa agar makan penuh keberkahan, maka ucapkanlah bismilah serta keberkahan bisa bertambah dengan makan berjama'ah (bersama-sama).
Keempat: Berdo'a ketika berbuka "Dzahabazh zhoma-u ..."
Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: 'Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)'." (HR. Abu Daud no. 2357, hasan). Do'a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal ketika membaca do'a di atas. Ketika ingin makan, tetap membaca 'bismillah' sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Ketika berbuka, mulailah dengan membaca 'bismillah', lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do'a di atas 'dzahabazh zhoma-u ...'. Karena do'a di atas sebagaimana makna tekstual dari "إِذَا أَفْطَرَ ", berarti ketika setelah berbuka.
Catatan: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah). Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.
Kelima: Berdo'a secara umum ketika berbuka.
Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do'a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment tersebut untuk berdo'a kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).
Keenam: Memberi makan berbuka.
Jika kita diberi kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhan untuk banyak-banyak berderma, di antaranya adalah dengan memberi makan berbuka karena pahalanya yang amat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)
Ketujuh: Mendoakan orang yang beri makan berbuka.
Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia. Dari 'Abdullah bin 'Umar, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ "Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do'akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya." (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih)
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,
اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى “Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]" (HR. Muslim no. 2055)
Kedelapan: Ketika berbuka puasa di rumah orang lain.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan,
أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ “Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud no. 3854 dan Ibnu Majah no. 1747 dan Ahmad 3/118, shahih)
Kesembilan: Ketika menikmati susu saat berbuka.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ "Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath'imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu." (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)
Kesepuluh: Minum dengan tiga nafas dan membaca 'bismillah'.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)
Kesebelas: Berdoa sesudah makan.
Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ "Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath'amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan)
Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah” setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا “Sesungguhnya Allah Ta'ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734) An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 51)
Demikian beberapa amalan ketika berbuka puasa. Moga yang sederhana ini bisa kita amalkan. Dan moga bulan Ramadhan kita penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Wallahu waliyyut taufiq.
Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat.

"Puasa Sebagai Sarana Pengendalian Diri Menuju Kesuksesan"

Salah satu kelemahan manusia ialah pandangannya yang pendek. Allah berfirman: “Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.”
Karenanya kita gampang tergoda terhadap hal-hal yang kurang hakiki. Dosa, tidak lain adalah demikian, sesuatu yang dalam jangka pendek membawa kesenangan, tetapi dalam jangka panjang membawa kehancuran. Ini dikarenakan efek kelemahan manusia yang tidak sanggup melihat akibat perbuatannya dalam jangka panjang. Jadi kelemahan manusia adalah mudah tergoda, tidak memiliki pengendalian diri yang kuat.
Dalam hal ini kita dapat menengok sejarah Nabi Adam dan Ibu Hawa. Seperti dikisahkan dalam Al Qur’an, Adam & Hawa telah diberi karunia dan diberkahi berbagai kenikmatan yang melimpah, dan diberi kemudahan untuk memakan segala buah-buahan di alam syurga, kecuali “Syajaratul Khuldi” atau “pohon keabadian”. Al Qur’an mengisahkan: Dan kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Allah memerintahkan Adam & Hawa menahan diri dan tidak mendekati “buah terlarang”. Namun, karena mereka tidak mampu menahan diri dari dorongan nafsu syetan, dan keduanya tergoda janji palsu akan hidup abadi dan memiliki kekuasaan bakal bertahan sepanjang zaman, maka mereka terusir dari syurga, tersungkur jatuh ke dalam hidup hina, penuh derita dan nestapa. Kitab suci Al Qur’an dengan jelas menggambarkan hal ini.
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (pohon kekekalan) dan kerajaan yang tidak akan binasa?"
Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya Maka dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Kisah Nabi Adam & Hawa menjelaskan bahwa sejak awal sejarahnya, umat manusia telah diperintahkan untuk mampu menahan dan mengendalikan diri sendiri dari berbagai bentuk kezaliman dan kemaksiyatan.
Puasa sebagai upaya pengendalian diri
Agar manusia mampu memiliki pengendalian diri yang baik, Allah memberi sarananya melalui perintah berpuasa. Puasa yang dalam bahasa Arab disebut ”shawama” yang bermakna “menahan”, “berhenti” atau “tidak bergerak”, secara hakiki mengandung arti “menahan dan mengendalikan diri”. Puasa bertujuan untuk mengatasi kelemahan yang paling mendasar dari manusia, yakni kecenderungan untuk bertindak berdasarkan dorongan nafsu semata. Kemampuan seseorang untuk secara terus menerus menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami istri di siang hari, menunjukkan bahwa ia telah dapat mengendalikan keinginannya, walaupun tubuh terus-menerus menuntut dipenuhinya dorongan-dorongan biologis. Tetapi puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia juga merupakan usaha untuk menahan diri dari segala dorongan untuk melakukan tindakan yang merusak.
Demikianlah, kita mendapati suatu pelajaran berharga dari ibadah puasa di bulan Ramadhan, yaitu sebuah latihan atau training untuk menjadi manusia yang mampu mengendalikan diri. Sehingga setelah bulan Ramadhan berlalu, kita telah siap menghadapi tantangan hidup yang nyata yang salah satu aspek penting yang dibutuhkan adalah kemampuan mengendalikan diri. Manusia yang mampu mengendalikan diri, adalah manusia yang mampu berpandangan jauh ke depan, yaitu sanggup menunda kenikmatan jasmani yang bersifat sesaat atau sementara, dalam rangka investasi atau menanam saham kenikmatan yang lebih agung dan sejati di masa depan. Manusia sebenarnya sudah tahu bahwa hal-hal yang bersifat jasmani itu tak akan kekal, tetapi anehnya dorongan manusia untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya seringkali menjadi hal yang utama. Sehingga nabi Muhammad menyindir mereka dengan sindiran yang keras: “Akan datang suatu zaman yang dihadapi oleh manusia, di mana perhatian mereka adalah perut-perut mereka (makan & minum dengan lezatnya); ukuran kemuliaan mereka adalah harta-harta atau materi; kiblat mereka adalah seks, dan agama mereka (yang disanjung-sanjung dan diutamakan oleh mereka) adalah kekayaan harta emas dan perak. Mereka itu adalah sejelek-jelek makhluq dan mereka tidak akan memperoleh keuntungan dan kebahagiaan di sisi Allah swt”
Apa yang diucapkan oleh Nabi di atas sekarang menjadi kenyataan. Kalau kita mau mengamati dengan cermat mengapa di negeri kita masih saja terjadi berbagai persoalan rumit, maka akar persoalan dari semua itu adalah pandangan yang sempit dan ketidakmampuan menahan diri. Terutama yang dilakukan oleh mereka yang memegang kekuasaan. Karena nafsu serakah, tanpa memperhatikan bahwa perbuatan curang terhadap negara akan merugikan masyarakat secara luas, banyak para penguasa yang mencuri kekayaan negara. Banyaknya kasus remaja yang melakukan tindakan layaknya suami istri padahal mereka belum diikat oleh ikatan pernikahan, disebabkan karena pandangan yang sempit dan sesaat untuk memenuhi bisikan nafsu hayawaniyah yang ada pada diri mereka; banyaknya fakir miskin yang kurang mendapat perhatian dan kepedulian dari para aghniya’. Ini juga disebabkan karena rakusnya orang-orang kaya terhadap harta, mereka kikir dan tak mau peduli terhadap pemecahan problema sosial. Puasa memberikan penyadaran kepada kita untuk menahan diri dari hal-hal yang sifatnya sementara. Kalau para penguasa mau menahan diri dari perbuatan curangnya, dan mau menyadari bahwa kekayaan negara adalah untuk semua warga negara, bukan untuk diri pribadi, Insya Allah krisis yang kita alami akan berangsur menghilang. Kalau para remaja mau menahan diri dari memperturutkan nafsu hayawaniyah, niscaya masa depan mereka akan lebih baik dan beradab, dan mereka tidak direpoti oleh urusan-urusan yang belum waktunya mereka urus. Kalau orang kaya sanggup menahan nafsu serakahnya dan sadar bahwa dalam harta di genggamannya terdapat hak fakir miskin, niscaya ketimpangan sosial tidak menjadi kian parah. Kalau orang kaya sanggup menomorduakan sifat kikirnya, maka segala kegiatan untuk kebaikan umat Islam, tak akan sampai kesulitan dalam soal pendanaan. Apa yang telah diuraikan tadi membuktikan betapa pentingnya pengendalian diri. Puasa ramadhan yang sedang kita laksanakan memberikan pembelajaran yang demikian.
Pengendalian diri dan hidup sukses.
Agar kita lebih mantap dalam menghayati pentingnya pengendalian diri, marilah kita lihat sebuah bukti dari hasil penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat. Sebuah percobaan penting pernah dilakukan di Stanford University pada tahun 1960-an, dimana anak-anak pra sekolah yang berusia 4 tahun dites kemampuannya untuk menahan godaan. Oleh penguji, sekotak marsmellow (manisan) diletakkan di dalam ruangan di mana anak-anak itu berada, lalu penguji itu meninggalkan mereka. Kepada anak-anak itu diberitahu bahwa mereka boleh segera mengambilnya sebuah. Namun jika mereka mau menunggu sampai penguji datang kembali, mereka boleh mengambil dua manisan sekaligus. Banyak di antara anak-anak tersebut yang segera mengambil satu dan memakannya, namun ada beberapa anak yang bersedia menunggu untuk memperoleh dua manisan. Anak-anak tersebut diikuti perkembangannya sampai mereka berusia 14 tahun, untuk melihat bagaimana mereka menjalani hidup. Anak-anak yang mampu menahan godaan pada usia 4 tahun, pada saat mereka remaja ternyata memiliki kecakapan sosial seperti orang dewasa, yaitu secara pribadi lebih matang, tegas, dan lebih mampu menghadapi frustrasi (perasaan putus asa). Namun sepertiga atau lebih dari mereka yang tergoda untuk mengambil manisan pada kesempatan pertama, cenderung memiliki kualitas pribadi yang lebih rendah dan secara kejiwaan mereka relatif lebih bandel. Yang lebih menakjubkan, mereka yang pada usia 4 tahun mau menunggu secara sabar, akhirnya tumbuh menjadi siswa yang lebih unggul dari anak-anak lain. Hasil penelitian tadi membuktikan bahwa tidak ada ketrampilan kejiwaan yang lebih mendasar selain ketrampilan menahan diri. Kemampuan menahan diri ini merupakan akar dari seluruh ketrampilan pengendalian emosi diri, karena semua emosi, secara alamiah, mengarah kepada satu atau lebih dorongan untuk bertindak. Di dalam keluarga, jika orang tua selalu mengizinkan segala sesuatu yang diinginkan anak, dan selalu memberi segala sesuatu yang diminta anak, maka kemampuan mengendalikan diri si anak cenderung sangat rendah. Orang yang memiliki pengendalian diri yang baik, maka ia akan mampu meraih predikat manusia yang bertaqwa (muttaqin), yaitu predikat tertinggi dalam prosesi keagamaan kita. Mengapa? Salah satu tanda orang yang bertaqwa adalah orang yang beriman kepada Allah dalam kegaiban. Dalam keadaan kita tidak melihat-Nya dengan mata kepala kita, namun kita menyadari kehadiran-Nya dalam hidup kita. Maka jika kita masih melanggar batas dalam kegaiban, maka sesungguhnya kita tidak beriman. Kata Nabi “orang tidak akan berbuat dosa selagi ia beriman”. Artinya dia memiliki pengendalian diri yang baik. Jadi melalui pengendalian diri yang baik akan dapat dicapai taqwa. Melalui taqwa kita menyadari akan keberadaan dan kehadiran Allah dalam hidup ini. dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Kesadaran bahwa Allah selalu beserta kita mempunyai efek atau pengaruh yang besar sekali dalam hidup kita.
Pertama kesadaran itu memberikan kemantapan hidup, bahwa kita ini tidak pernah sendirian. Kita selalu bersama Tuhan. Oleh karena itu kita tidak akan takut menempuh hidup ini. Sikap kita dalam hidup adalah: Cukuplah bagi kita itu Allah, dan Dialah sebaik-baik tempat bersandar.
Kemudian dampak yang kedua, bahwa dengan kesadaran hadirnya Allah dalam hidup kita, dan segala sesuatu yang kita kerjakan menurut kesadaran bahwa Allah mengawasi dan memperhitungkan perbuatan kita, maka kita akan dibimbing ke arah budi pekerti luhur, ke arah akhlaqul karimah. Mengapa ? Karena kalau kita menyadari bahwa Allah selalu hadir dalam hidup kita, maka tentunya kita tidak akan melakukan sesuatu yang sekiranya tidak mendapat perkenan dari Dia, tidak mendapat ridho dari Dia. Alangkah eloknya kehidupan masyarakat kita, manakala kita selalu merasakan kehadiran Tuhan di sisi kita. Kita menjadi merasa terawasi sehingga kita menjadi lebih berhati-hati jangan sampai kita terjebak untuk berbuat yang di luar tuntunan Allah.